Tulisan = Mesin Waktu

Beberapa hari yang lalu seorang teman memperlihatkan kepada saya sebuah buku yang berjudul Celoteh Soleh, buku ini ditulis oleh seorang Stand Up Comedian bernama Soleh Solihun. Di dalam buku tersebut berisikan tulisan tulisan yang hampir keseluruhannya di ambil dari blog pribadi dia yang kemudian di buku-kan.

Kadang kepikiran juga sih suatu saat bisa seperti dia, tulisan tulisan di blog pribadiku bisa di terbitkan. Kalaupun ada penerbit yang mau nge-buku-kan blogku, pasti tuh penerbit sudah siap untuk rugi :)). Mau rugi atau enggak, yang jelas rasa bangga itu ada. Bayangkan aja biasanya kita ke Toko Buku ngeliat buku buku terbitan baru yg dipajang, sekarang malah buku kita sendiri yang dipajang. Orang orang pada berebut beli buku kita, poster wajah kita dipasang di setiap sudut toko buku sampai di toilet juga dipasang, pengganti tissu toilet..

Pasti senang kan? Pasti! kecuali tentang tissu toilet itu...


Sebenernya saya ini gak terlalu hobby menulis, tapi keinginan untuk menciptakan sebuah tulisan itu ada. Nah lho! Jadi gini, ada waktu dimana saya punya banyak ide untuk menulis. Tapi ketika dihadapkan dengan laptop seolah olah jari jari ini rasanya susah sekali untuk digerakkan. Karena bingung harus memulai darimana, bagaimana menyampaikan isinya, serta mencari ending dari sebuah tulisan.
Tapi terkadang kalau mood lagi bagus, jari sama otak bisa diajak bekerja sama. Hasilnya, ya tulisan tulisan yang ada di blog ini. Yah walaupun masih banyak kekurangan, mungkin dari minimnya kosa kata, pemilihan bahasa yang kadang kurang tepat dan masih banyak lagi kekurangan yang bisa didapatkan di blog ini.

Selain foto, sebuah tulisan itu juga dapat merekam moment moment tertentu yang terjadi, dan tentunya kita dapat bernostalgia lagi dengan moment tersebut di suatu hari nanti. Kejadian ini pernah saya alami, ratusan malam lalu entah kapan tepatnya. Saya kembali membaca blog lama saya yang isinya gak jauh dari masalah pacaran. Di malam itu saya seperti larut ke tahun tahun sebelumnya, tahun dimana hari hari saya selalu bahagia, kecuali hari dimana saya harus menerima keputusannya untuk mengakhiri semuanya hahaha oke stop!. Jadi, begitulah sebuah tulisan bekerja. Layaknya sebuah mesin waktu yang mampu menyeret kita kembali ke masa lalu..

Saya jadi teringat kata kata yang ada di buku Celoteh Soleh. "The strongest memory is weaker than the palest ink" atau dalam indonesianya, "Ingatan yang paling kuat  itu lebih lemah jika dibandingkan dengan tinta yang pucat sekalipun". (CMIIW)
Oleh karena itu, marilah kita menulis :)


READ MORE - Tulisan = Mesin Waktu

Beras Basah Island

Untuk tulisan kali ini aku mau ngebahas tentang liburanku bareng temen temen ke sebuah pulau kecil yang terletak di lautan kota Bontang, Kalimantan Timur.

Untuk pertama kalinya aku bareng temen temen mencoba untuk camping di sebuah pulau kecil yang jauh dari perkotaan. Awalnya kita berlima berangkat dari Samarinda sekitar pukul 08:30 pagi, rencananya sih berangkat jam 04:30 subuh. Tapi berhubung cuacanya tidak bersahabat akhirnya molor jadi jam 08:30. Perjalanan dari Samarinda menuju kota Bontang memakan waktu setidaknya 2-3 jam. Sebenernya bisa lebih cepat, hanya saja faktor jalanan yang di beberapa tempat rusak membuat kita memperlambat kecepatan .
Sesampainya di kota Bontang, kita berlima langsung menuju ke pelabuhan Tanjung Laut. Di pelabuhan kita pun mulai mencari kapal untuk menyebrang ke Pulau Beras Basah. Untuk harga sewa bermacam macam, jadi jika kalian mau kesana kalian setidaknya punya keahlian dalam tawar menawar harga. Kebetulan kemarin aku dan temen temen dapat kapal harganya 450ribu untuk pulang-pergi. Awalnya sih Kakek Cangkul minta bayaran double untuk ongkos pulang-pergi. Tapi karena kita tawar akhirnya si Kakek Cangkul nyerah juga di angka 450ribu, horayy!
Tips buat kalian agar bisa dapat murah adalah usahakan ketika menawar pasang muka lesu seperti gak pernah makan sejak kelas 5 SD!
Oh iya, kalo diantara kalian ada yang bertanya kenapa dinamakan Kakek Cangkul. Jangan pernah tanya ke aku, karena aku juga gak tau! Tiba tiba tercetus gitu aja panggilan Kakek Cangkul, padahal tuh orang sama sekali gak ada bawa cangkul..

Untuk nyeberang ke Beras Basah lagi lagi kita dihadapi masalah sehingga harus molor sekitar 2jam dikarenakan mesin kapalnya rusak! Jadi kita menunggu mesin kapalnya diperbaikin, 5menit pertama masih senang. 30menit kemudian sudah mulai agak BT! 1jam kemudian muka yang lain sudah macam macam bentuknya! 2jam kemudian hampir kita  bakar tuh kapal. Sampai akhirnya tuh mesin gak bisa diperbaiki, kita pindah ke kapal sebelahnya! "Coba daritadi kek!" *ngomong dalam hati*.

Perjalanan dari Pelabuhan menuju Beras Basah memakan waktu sekitar 45menit. Tapi sayang, cuaca saat itu bener bener gak bersahabat. Aku pikir aku bakalan bisa ngeliat sunset sore itu, tapi ternyata semua jauh diluar dugaan. Langit mendung dan hujan gerimis sore itu menghancurkan semuanya.
Setelah 45menit terombang ambing dilautan akhirnya kita berlima sampai juga di Beras Basah. Kesan pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu rasanya wow! tempatnya keren! air lautnya juga keren, jerniiihhh!
Ini pasti akan menyenangkan, pikirku dalam hati.

Setelah beristirahat sejenak kita pun mulai mendirikan tenda dan menyalakan api karena disana itu sangat dingin, mungkin karena cuacanya yang habis hujan ditambah dengan angin laut yang sangat kencang. Setelah tenda berdiri kita berlima mulai jalan jalan keliling pulau. Oh ya, di pulau itu ada satu rumah, yaitu rumah penjaga pulau sekaligus tempat untuk mandi (bayar tentunya). Untuk harga satu jerigen air dikenakan biaya Rp 5000,-. Sekedar saran aja sih kalau kalian pergi kesana beli satu jerigen air aja, soalnya ketika kalian mau mandi di dalam kamar mandinya ada air bersih dalam bak mandi :D. Tapi diem diem ya make air dalam baknya *evil*.

Puas keliling pulau kita lalu menyiapkan makan, untuk masak satu bungkus mie instant aja perlu waktu lama. Maklum ini untuk pertama kalinya kita camping + masak diatas api unggun.
Karena tidak ada pedagang dan jauh dari kota, makanan apapun terasa sangat berharga disini. Sebanyak apapun uang yang kamu bawa, gak akan berlaku hahaha.

Akhirnya malam pun tiba, dari kejauhan tampak terlihat sinar sinar lampu yang tersusun rapi di area Kilang LNG. Api unggun sudah nyala, saking dinginnya saya mengenakan pakaian double + jaket dan kaus kaki. Angin pantai malam itu lebih deras dari sore tadi. Tapi beruntung, cuaca sudah mulai bersahabat. Gak lucu kan kalo malam itu tiba tiba hujan.
Kita menghabiskan malam dengan membakar ayam yang sudah kita bawa dari Samarinda, tapi sedih juga sih ternyata persediaan kayu untuk api unggun sudah mulai menipis. Gak terasa akhirnya tuh kayu pun habis dan waktu itu masih jam 8 malam -_-". Sepertinya malam ini akan terasa pendek...

Sekitar jam 10malam saya memutuskan untuk tidur duluan, kemudian tidak lama setelahnya yang lain menyusul. Malam itu sangat menyeramkan, angin pantai yang deras membuat tenda bergoyang2. Ditambah lagi suasana gelap tanpa cahaya sedikitpun. Satu hal yang menjadi keinginan kita pada malam itu adalah... mendengar suara ayam berkokok...
Karena derasnya angin dan seramnya keadaan sekitar ngebuat kita semua gelisah. Belum lagi bahaya rampok yang sewaktu waktu bisa datang tiba tiba. Ternyata malam itu menjadi malam yang panjang..

Malam yang menyeramkan itu pun akhirnya kita lewati, entah jam berapa kita semua tertidur lelap. Yang jelas pagi itu saya bangun lebih awal dari yang lainnya. Berharap bisa ngeliat sunrise, lagi lagi saya tidak bisa ngeliat sunrise. Awan mendung kembali menutupi matahari, sedihnya T_T.
Pagi itu setelah semuanya bangun kita mulai merapikan tenda dan membuang sampah sampah yang berserakan. Kakek Cangkul akan menjemput kita jam 09:00..
Setelah semua beres dan menyiapkan barang masing masing, kita menunggu Kakek Cangkul untuk menjemput. Hampir satu jam kita menunggu ternyata tuh kakek gak datang datang juga. Lupa atau gimana yah -__-". Yang jelas selagi menunggu jemputan, aku bareng yang lain sempat makan, sempat berenang sampe Bontang terus balik lagi ke Beras Basah. Tetep aja tuh Kakek belum muncul.

Beruntung ada ceweknya Rizal (yang ngebawain nasi pecel pagi itu) datang naik Speedboat, karena ngejar waktu untuk sampai Samarinda jadi kita memutuskan untuk ikut Speedboat. Soalnya kalo nungguin Kakek Cangkul kemungkinan besar saat sudah sampe di Samarinda temen2 kuliahku udah pada lulus semua kali.
Tapi ternyata ketika kita baru menginjakan kaki di Speedboat, dari kejauhan tampak sebuah kapal menuju ke arah Beras Basah. Perlahan kita dekati menggunakan Speedboat dan ternyata benar, itu Kakek Cangkul!!!
Ketika merapat ke dermaga Asisten Kakek Cangkul bilang kalo mereka telat gara gara nonton bola semalam. Oke, fine.....
Dengan cepat kita langsung memindahkan barang dari Speedboat ke Kapal Kakek Cangkul. lalu melanjutkan perjalanan ke bontang bersama Kakek Cangkul lagi, perjalanan menuju Bontang kali ini terasa lebih cepat dibandingkan ketika kita menuju ke Beras Basah. Cuaca siang itu lagi panas panasnya. Sesampainya di Pelabuhan Tanjung Laut tanpa basa basi kita melanjutkan perjalanan ke arah kota tercinta, Samarinda.... Rasa kangen terhadap tempat tidur saat itu lebih besar daripada rasa kangen terhadap mantan..

Dan ini ada sedikit video perjalanan menuju Beras Basah, sayang yah cuacanya mendung :(
Harap dimaklumi kalau video editingnya jelek, masih pemula :D






 




READ MORE - Beras Basah Island
Send me
your sounds

Daftar Isi

About Me

Foto saya
Samarinda, East Borneo, Indonesia
Semua yang terjadi kadang tidak cukup jika hanya di sampaikan melalui kata kata yang keluar dari mulut saja. Di blog ini, jari jariku yang akhirnya berbicara...

Blog Archive

counter

Website counter

Pengikut